Surat rindu…
Kaki kuayuh dengan semangat menyapa rumah yang sudah seminggu ini kutinggalkan…. demi sebuah gelar ‘tamatan SMP’
Ketukan dan salamku tak ada sautan dari empunya rumah, hatiku mulai cemas…
‘Tuhan… jangan ambil dia dariku….’ bisikku pada angin sepoi yang menyapa wajahku.
Entah… pedih itu kian menyayat, menusuk, menggores. Sapaan angin tak memberikan jawaban kecuali isyarat ‘waktunya sudah dekat’. Hatiku galau….
November 1997, jawaban angin padaku… semua hening… hening sekali… tak ada suara apapun, pun jangkrik yang biasa berkerik di ladang sebelah rumah tak berani bersuara. Tiba-tiba angin berjalan cepat, lebih cepat dari biasanya, menumbangkan kokohnya pohon mahoni di tepi jalan. bergemuruh…. membawa hujan berputar-putar menerbangkan semua yang ia lalui
Badai itu… terjadi ditengah badai hatiku…. menumbangkan sombongnya diri. Menunbangkan keegoisan hidup. Menyampaikan pesan rindu bahwa semua tak ada yang abadi kecuali Sang Pemilik hujan. Galau hatiku semakin dalam…. rindu untuk kembali ke tanah kelahiran semakin menjadi.
Galau hatiku terjawab sudah…. seonggok tanah dan nisan memberikan jawaban, aku tak mampu berkata apapun…
- Rasanya baru kemarin dia pergi….


